MEMBUAT
MAKALAH TIK
JUDUL :
PERANAN INTERNET DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI MEDAN
- BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi masalah
C. Batasan masalah
D. Rumusan masalah
E. Tujuan penulisan
F. Manfaat penulisan
- BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. PERANAN INTERNET DALAM PENDIDIKAN
1. PENGERTIAN INTERNET
2. PERKEMBANGAN INTERNET
3. MANFAAT INTERNET BAGI
PENGEMBANGAN SDM DAN TEKNOLOGI
B. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN MEDAN
1. PENGERTIAN PENDIDIKAN
2. JENJANG PENDIKAN
3. CARA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN
4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU
PENDIDIKAN
C. PERANAN INTERNET GUNA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI
MEDAN
BAB III
METODE PENELITIAN
1. LOKASI PENELITIAN
2. WAKTU PENELITIAN
3. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
4. METODE PENELITIAN
5. ALAT PENGUMPUL DATA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teknologi
Komunikasi dan Informasi Dalam Pendidikan Perkembangan Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia
pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001),
dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses
pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas di
mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4)
fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu
nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan
media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb.
Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap
muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat
memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula
siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber
melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau
internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber
teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan
dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning
yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media Teknologi Komunikasi dan
Informasi khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning
merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran
dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning
merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan,
mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman sampai ke
pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang
standar, (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran
di balik paradigma pembelajaran tradisional. Saat ini e-learning telah
berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT
(Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning,
Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop
Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted
Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.
Satu
bentuk produk TIK adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20
dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar
terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet
merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan
dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat
tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap
orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai
bidang dan pada gilirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan
perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir
telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam
berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan
satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan
perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap
corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan
ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan
global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan
yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan
proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka
antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.
Di
masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan
internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk
beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan
kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau
lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat
bantu utama. Majalah Asiaweek terbitan 20-27 Agustus 1999 telah menurunkan
tulisan-tulisan dalam tema "Asia in the New Millenium" yang
memberikan gambaran berbagai kecenderungan perkembangan yang akan terjadi di
Asia dalam berbagai aspek seperti ekonomi, politik, agama, sosial, budaya,
kesehatan, pendidikan, dsb, termasuk di dalamnya pengaruh revolusi internet
dalam berbagai dimensi kehidupan. Salah satu tulisan yang berkenaan dengan
dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul
"Rebooting:The Mind Starts at School". Dalam tulisan tersebut
dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh
berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti
laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku
dan guru berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut
sebagai "Cyber Classroom" atau "ruang kelas maya"
sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual
maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut "interactive
learning" atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet.
Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran
secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar
dari berbagai sumber belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai
dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat
akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum
dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan
fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan
peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik dalam
dimensi waktu maupun ruang dan materi. Dalam situasi seperti ini, guru
bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran
sebagaimana dikemukakan di atas.
Dalam
tulisan itu, secara ilustratif disebutkan bahwa di masa-masa mendatang isi tas
anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini, akan
tetapi berupa: (1) Komputer Notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang
bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat
atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara, (2)
Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti
untuk masuk rumah, kalkulator, dsb. (3) Videophone bentuk saku dengan perangkat
lunak, akses internet, permainan, musik, dan TV, (4) Alat-alat musik, (5) Alat
olah raga, dan (6) Bingkisan untuk makan siang. Hal itu menunjukkan bahwa
segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang
bernuansa internet sebagai alat bantu belajar.
Meskipun
teknologi informasi komunikasi dalam bentuk komputer dan internet telah
terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan
produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi
kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu
sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Dapat juga terjadi proses
pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran
yang bersifat sosial. Dari aspek informasi yang diperoleh, tidak terjamin
adanya ketepatan informasi dari internet sehingga sangat berbahaya kalau anak
kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. Bagi anak-anak
sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan
peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar,
berhitung, dsb. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam
mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya
kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di
rumah masing-masing.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan Pemikiran
Mengingat
begitu pentingnya peranan kurikulum di dalam sistem pendidikan dan dalam
perkembangan proses kehidupan manusia, maka pengembangan kurikulum harus
dikerjakan dengan teliti. Pengembangan kurikulum membutuhkan landasan-landasan
yang kuat dan didasarkan atas berbagai hal, misalnya landasan filosofis,
analisis, psikologis, empiris, politis dan lain sebagainya.
Dalam
UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4 menegaskan
paling tidak terdapat dua tujuan Pendidikan Nasional, yaitu memiliki
pengetahuan dan keterampilan. Menurut Soedijarto (1993: 70) pendidikan nasional
selain bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa masih dituntut pula untuk : (1)
meningkatkan kualitas manusia, (2) meningkatkan kemampuan manusia termasuk
kemampuan mengembangkan dirinya, (3) meningkatkan mutu kehidupan dan martabat
manusia, dan (4) ikut mewujudkan tujuan nasional. Dengan menyadari hal itu,
pengembangan kurikulum perlu selalu berorientasi pada perkembangan zaman dan masyarakat.
Selanjutnya
dalam Pasal 37 UU No. 2 Tahun 1989, menyiratkan kaidah-kaidah, bahwa kurikulum
harus dapat memberikan suatu pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik
untuk dapat: (1) mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan serta kemampuan
mengembangkan diri (2) kemampuan akademik dan atau profesional untuk
menerapkan, mengembangkan, dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, maupun
untuk kesenian (Soedijarto, 1993: 47).
Sementara
itu Ki Hajar Dewantara (1946: 15) menyatakan bahwa kebudayaan merupakan faktor
penting sebagai akar pendidikan suatu bangsa. Hal ini mengindikasikan bahwa
dalam mengembangkan kurikulum, kedudukan kebudayaan merupakan variabel yang
penting.
Winarno
Surakhmad (2000: 4) menyatakan bahwa kurikulum masa depan adalah kurikulum yang
mengutamakan kemandirian dan menghargai kodrat, hak serta prestasi manusia. Ini
berarti dalam pengembangan kurikulum sesuatu yang konkrit dan bersifat empiris
dari suatu komunitas sosial tidak dapat dipisahkan, di samping tuntutan kemampuan
masyarakat itu sendiri.
Dengan
bercermin pada kondisi masyarakat Indonesia saat ini yang sedang ditempa oleh
fenomena sosial yang amat besar yaitu gelombang reformasi dan isu-isu yang
berkaitan dengan hak asasi manusia dan lingkungan hidup, maka perlu
kajian-kajian yang mendalam guna reposisi maupun reorientasi kurikulum.
Tuntutan masyarakat pada hakikatnya adalah amat kompleks dan beragam, sebab hal ini erat kaitannya dengan kondisi psikologis tiap-tiap individu. Perbedaan individu berhubungan dengan perkembangannya, latar belakang sosial budaya, dan faktor-faktor yang dibawa dari kelahirannya, merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum.
Tuntutan masyarakat pada hakikatnya adalah amat kompleks dan beragam, sebab hal ini erat kaitannya dengan kondisi psikologis tiap-tiap individu. Perbedaan individu berhubungan dengan perkembangannya, latar belakang sosial budaya, dan faktor-faktor yang dibawa dari kelahirannya, merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum.
Landasan
lain yang diperlukan dalam pengembangan kurikulum adalah teori belajar, yaitu
tentang bagaimana peserta didik belajar. Banyak sekali teori belajar yang
dikenal saat ini. Teori-teori tersebut dikembangkan terutama dari psikologi,
Ratna Wilis Dahar (1989) antara lain menyebutkan: (1) behaviorisme (Ivan
Pavlov): Classical Conditioning; E.L Thorndike: Hukum pengaruh ; B.F Skinner:
Operant Conditioning); (2) Cognitive (Akomodasi dan Asimilasi dari Piagiet;
belajar bermakna dari Ausubel; Skemata) dan sebagainya tentu saja amat berguna
dalam pengembangan kurikulum.
Y.
Marpaung (2000: 2) dalam hasil wawancaranya dengan guru antara lain menyebutkan
bahwa apabila siswa ditanya oleh guru dan apabila pertanyaan yang diajukan oleh
guru agak sulit dan mereka tidak yakin bahwa jawabannya benar maka mereka akan
diam. Hasil penelitian Munawir Yusuf (1997: iii) menyebutkan bahwa terdapat:
(1) 68% siswa yang mengalami kesulitan belajar menbaca, (2) 71,8 % kesulitan
belajar menulis, dan (3) 62,2% kesulitan belajar berhitung. Dua contoh tersebut
di atas merupakan satu dari masalah yang berkaitan dengan hal
"bagaimana" seharusnya memperoleh perolehan, sehingga peserta didik
diajak untuk berfikir dan menghayati bahan ajarnya.
Gencarnya perkembangan iptek menuntut adanya manusia-manusia yang kreatif agar mereka dapat memasuki dunia yang amat kompetitif. Berkaitan dengan hal tersebut, M.S.U Munandar (1987: 56-59) mengemukakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur yang ada.
Gencarnya perkembangan iptek menuntut adanya manusia-manusia yang kreatif agar mereka dapat memasuki dunia yang amat kompetitif. Berkaitan dengan hal tersebut, M.S.U Munandar (1987: 56-59) mengemukakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur yang ada.
Dari
beberapa pemikiran yang telah dikemukakan di atas, pengembangan kurikulum
"Pendidikan Teknologi " untuk siswa di jenjang pendidikan dasar
nampaknya merupakan salah satu alternatif yang "dapat" mengatasi
masalah berkaitan dengan pembudayaan teknologi. Pendidikan teknologi pada
hakikatnya merupakan materi pembelajaran yang mengacu pada bidang-bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi dimana peserta didik diberi kesempatan untuk membahas
masalah teknologi dan kemasyarakatan, memahami dan menangani peralatan hasil
teknologi, memahami teknologi dan dampak lingkungan, serta membuat
peralatan-peralatan teknologi sederhana melalui kegiatan-kegiatan merancang dan
membuat (BTE, 1998: 7).
B. Pergeseran pandangan tentang pembelajaran
Manfaat
dan perkembangan teknologi informasi telah merubah cara belajar dan mengajar
dari kondisi tradisional. Pengembangan teknologi informasi online memudahkan
siswa memilih cara memperoleh informasi. Dan guru dapat mengajar melalui media
online dan berkomunikasi secara fleksibel dalam berinteraksi (Siew Choo Soo,
2002).
Untuk
dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang
harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi
digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru, (2)
harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi
siswa dan guru, dan (3) guru harus memilikio pengetahuan dan ketrampilan dalam
menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar
mencaqpai standar akademik. Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka
telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di
luar kelas. Dalam pandangan tradisional di masa lalu (dan masih ada pada masa
sekarang), proses pembelajaran dipandang sebagai: (1) sesuatu yang sulit dan
berat, (2) upoaya mengisi kekurangan siswa, (3) satu proses transfer dan
penerimaan informasi, (4) proses individual atau soliter, (5) kegiatan yang
dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil dan
terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan dengan perkembangan TIK telah
terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai:
(1) proses alami, (2) proses sosial, (3) proses aktif dan pasif, (4) proses
linear dan atau tidak linear, (5) proses yang berlangsung integratif dan
kontekstual, (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat,
dan kulktur siswa, (7) aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas,
perolehan hasil, dan pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok.
Hal
itu telah menguban peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Peran guru telah
berubah dari: (1) sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, akhli
materi, dan sumber segala jawaban, menjadi sebagai fasilitator pembelajaran,
pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan mitra belajar; (2) dari
mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih banyak
memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam
proses pembelajaran. Sementara itu peran siswa dalam pembelajaran telah
mengalami perubahan yaitu: (1) dari penerima informasi yang pasif menjadi
partisipan aktif dalam proses pembelajaran, (2) dari mengungkapkan kembali
pengetahuan menjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan, (3) dari pembelajaran
sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif
dengan siswa lain.
C. Tujuh Peranan Teknologi Informasi
Sesuai
dengan hakekat dan karakteristiknya, paling tidak terdapat 7 (tujuh) peranan
utama teknologi informasi dalam dunia pendidikan. Ketujuh peranan strategis
tersebut terkait langsung dengan 4 (empat) pilar utama penopang arsitektur
sistem institusi pendidikan yang baik – yaitu konten dan kurikulum, proses
belajar mengajar, sumber daya manusia dan kultur, serta fasilitas dan jaringan
prasarana – yang ditunjangoleh 3 (tiga) entitas pendukung
operasional,masing-masing adalah infrastruktur dan suprastruktur, kegiatan
operasional terpadu, dan sistem manajemen mutu.
Berdasarkan
sejumlah aspek inilah maka diturunkan 7 (tujuh) peranan teknologi informasi
(Indrajit, 2005), yaitu:
1. Teknologi
informasi merupakan sumber atau gudang ilmu pengetahuan karena dengan
memanfaatkan jaringan raksasa semacam internet, pengajar maupun peserta didik
dapat mengakses secara bebas ribuan bahkan jutaan sumber pengetahuan di seluruh
dunia disamping memberikan kesempatan bagi para stakeholder pendidikan untuk
saling berinteraksi di dunia maya dengan menggunakan berbagai fasilitas seperti
chatting, email, mailing list, newsboard, dan discussion forum
2. Teknologi
informasi sebagai alat bantu pengajar maupun peserta didik dalam melakukan
aktivitas pembelajaran, misalnya dengan memanfaatkan komputer dan sejumlah
aplikasinya sebagai media simulasi, alat bantu ilustrasi, sarana interaksi, dan
lain sebagainya;
3. Teknologi
informasi sebagai standar kompetensi dan keahlian yang harus dimiliki oleh
pengajar, peserta didik, penyelenggara pendidikan, dan stakeholder terkait
lainnya (misalnya: orang tua, pemerintah, dan masyarakat) karena merupakan
prasyarat mutlak agar pendidikan berbasis teknologi informasi dapat dilakukan
secara efektif.
4. Teknologi
informasi sebagai peluang terjadinya sebuah transformasi sistem pendidikan masa
depan terutama dengan diperkenalkannya sejumlah konsep semacam e-library,
virtual class, digital library, dan lain-lain yang tidak lagi bergantung pada
batasan-batasan fisik dari sumber daya (Morton, 1991);
5. Teknologi
informasi sebagai alat penunjang manajemen institusi pendidikan dalam proses
pengambilan keputusan strategis maupun operasional, terutama terkait dengan
pemanfaatan dan alokasi sumber daya serta pemantauan kinerja institusi, seperti
implementasi decision support system, executive information system, management
information system, dan lain sebagainya (Scott, 1994);
6. Teknologi
informasi sebagai sarana memadukan beragam fungsi dan proses di dalam
penyelenggaraan administrasi pendidikan, terutama yang menyangkut mengenai
alokasi sumber daya pembelajaran (pengajar, peserta didik, ruang kelas,
peralatan, dan lain sebagainya) maupun hal-hal penopang lainnya, seperti sistem
informasi keuangan, sumber daya manusia, pengadaan dan logistik, dan manajemen
dokumen (Sprague, 1993);
7. Teknologi
informasi sebagai infrastruktur dan suprastruktur institusi pendidikan, dalam
arti kata bahwa lembaga yang bersangkutan harus memiliki akses terhadap
jaringan infrastruktur yang menghubungkan seluruh komputer yang dimilikinya dan
tentu saja menyusun beragam kebijakan dan peraturan pelaksanaan penggunaannya
D. Kreativitas dan Kemandirian Belajar
Dengan
memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas, jelas
sekali TIK mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap proses dan hasil
pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. TIK telah memungkinkan
terjadinya individuasi, akselerasi, pengayaan, perluasan, efektivitas dan
produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas
pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan.
Melalui penggunaan TIK setiap siswa akan terangsang untuk belajar maju
berkelanjutan sesuai dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya.
Pembelajaran dengan menggunakan TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri
sehingga memungkinkan mengembangkan semua potensi yang dimilikinya.
Dalam
menghadapi tantangan kehidupan modern di abad-21 ini kreativitas dan
kemandirian sangat diperlukan untuk mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan.
Kreativitas sangat diperlukan dalam hidup ini dengan beberapa alasan antara
lain: pertama, kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk
mengaktualisasikan dirinya, kedua, kreativitas memungkinkan orang dapat
menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, ketiga, kreativitas
dapat memberikan kepuasan hidup, dan keempat, kreativitas memungkinkan manusia
meningkatkan kualitas hidupnya. Dari segi kognitifnya, kreativitas merupakan
kemampuan berfikir yang memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian, dan
perincian. Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas ditandai dengan motivasi
yang kuat, rasa ingin tahu, tertarik dengan tugas majemuk, berani menghadapi
resiko, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, memiliki rasa humor,
selalu ingin mencari pengalaman baru, menghargai diri sendiri dan orang lain,
dsb. Karya-karya kreatif ditandai dengan orisinalitas, memiliki nilai, dapat
ditransformasikan, dan dapat dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat
diperlukan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini sebab kemandirian merupakan
kunci utama bagi individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam
kehidupannya. Kemandirian didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan
penguasaan kompetensi tertentu, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif
dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki
komitmen yang kuat terhadap berbagai hal.
Dengan
memperhatikan ciri-ciri kreativitas dan kemandirian tersebut, maka dapat
dikatakan bahwa TIK memberikan peluang untuk berkembangnya kreativitas dan
kemandirian siswa. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat
menghasilkan karya-karya baru yang orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan
dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. Melalui
TIK siswa akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan
mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang
kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan
kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik
terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain.
E. Media Pembelajaran
Kerjasama
antar pakar dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik
dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, seseorang harus berkelana atau
berjalan jauh menempuh ruang dan waktu untuk menemui seorang pakar untuk
mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah
dengan mengirimkan email.
Makalah
dan penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui
Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharring dan
mailing list. Bayangkan apabila seorang mahasiswa di Sulawesi dapat berdiskusi
masalah teknologi komputer dengan seorang pakar di universitas.
Mahasiswa
dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di
Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi.
Sharing information juga sangat dibutuhkan dalam bidang penelitian agar
penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasilhasil penelitian di
perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersamasama sehingga
mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi.
Virtual university merupakan sebuah aplikasi baru bagi Internet. Virtual university memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanya dilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satu kelas? Jumlah peserta mungkin hanya dapat diisi 40 50 orang. Virtual university dapat diakses oleh siapa saja, darimana saja. Penyedia layanan virtual university ini adalah www.ibuteledukasi.com . Mungkin sekarang ini virtual university layanannya belum efektif karena teknologi yang masih minim. Namun diharapkan di masa depan virtual university ini dapat menggunakan teknologi yang lebih handal semisal video streaming yang dimasa mendatang akan dihadirkan oleh ISP lokal, sehingga tercipta suatu sistem belajar mengajar yang efektif yang diimpiimpikan oleh setiap ahli IT di dunia pendidikan.
Virtual university merupakan sebuah aplikasi baru bagi Internet. Virtual university memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanya dilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satu kelas? Jumlah peserta mungkin hanya dapat diisi 40 50 orang. Virtual university dapat diakses oleh siapa saja, darimana saja. Penyedia layanan virtual university ini adalah www.ibuteledukasi.com . Mungkin sekarang ini virtual university layanannya belum efektif karena teknologi yang masih minim. Namun diharapkan di masa depan virtual university ini dapat menggunakan teknologi yang lebih handal semisal video streaming yang dimasa mendatang akan dihadirkan oleh ISP lokal, sehingga tercipta suatu sistem belajar mengajar yang efektif yang diimpiimpikan oleh setiap ahli IT di dunia pendidikan.
Virtual
school juga diharapkan untuk hadir pada jangka waktu satu dasawarsa ke depan.
Bagi Indonesia, manfaatmanfaat yang disebutkan di atas sudah dapat menjadi
alasan yang kuat untuk menjadikan Internet sebagai infrastruktur bidang
pendidikan. Untuk merangkumkan manfaat Internet bagi bidang pendidikan di
Indonesia:
* Akses ke perpustakaan;
* Akses ke pakar;
* Melaksanakan kegiatan kuliah secara online;
* Menyediakan layanan informasi akademik suatu institusi pendidikan;
* Menyediakan fasilitas mesin pencari data;
* Meyediakan fasilitas diskusi;
* Menyediakan fasilitas direktori alumni dan sekolah;
* Menyediakan fasilitas kerjasama;
* Dan lain lain.
* Akses ke pakar;
* Melaksanakan kegiatan kuliah secara online;
* Menyediakan layanan informasi akademik suatu institusi pendidikan;
* Menyediakan fasilitas mesin pencari data;
* Meyediakan fasilitas diskusi;
* Menyediakan fasilitas direktori alumni dan sekolah;
* Menyediakan fasilitas kerjasama;
* Dan lain lain.
F. Kendala
Jika
memang IT dan internet memiliki banyak manfaat, tentunya ingin kita gunakan
secepatnya. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan
Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin.
Kesiapan
pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini.
Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Perlu diketahui bahwa cyber law belum diterapkan pada dunia hukum di Indonesia.
Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Perlu diketahui bahwa cyber law belum diterapkan pada dunia hukum di Indonesia.
Selain
itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi
telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat
terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di
Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal
bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia..
Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di
rumah.
Sementara
itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di
kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet.Hal ini tentunya
dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada
akhirnya terpulang juga kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat
menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di
bidang pendidikan. Namun sementara pemerintah sendiri masih demikian pelit
untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhan pendidikan (Nurdin Salmi,2005).
G. Peran guru
Semua
hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya karena setiap siswa memiliki
kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan
baik dari guru maupun dari orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran
dengan dukungan TIK. Dalam kaitan ini guru memegang peran yang amat penting dan
harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan
memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi
informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah
peran-peran tertentu, karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan
hanya salah satu sumber informasi. Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing
Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa
mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu guru sebagai: pelatih
(coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar,
dan pengarang. Sebagai pelatih (coaches), guru harus memberikan peluang yang
sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya
sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Guru hanya memberikan
prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak.
Hal
ini merupakan analogi dalam bidang olah raga, di mana pelatih hanya memberikan
petunjuk dasar-dasar permainan, sementara dalam permainan itu sendiri para
pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang
ada. Sebagai konselor, guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi
belajar-mengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana
psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Disamping
itu, guru diharapkan mampu memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke
arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru memiliki
kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan
kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang
pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan
tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa.
Hal
ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak,
akan tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa. Sebagai pemimpin,
diharapkan guru mampu menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain
untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama. Disamping sebagai pengajar,
guru harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang
bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luiar mengajar. Sebagai
pembelajar, guru harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan
kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang,
guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan
digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Guru yang mandiri
bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang
baku, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai
karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan
komitmen yang tinggi sebagai basis kualitas profesionalismenya.
BAB
III
PENUTUP
Guna
mempersiapkan sumber daya manusia yang handal dalam memasuki era kesejagadan,
yang salah satunya ditandai dengan sarat muatan teknologi, salah satu komponen
pendidikan yang perlu dikembangkan adalah kurikulum yang berbasis pendidikan
teknologi di jenjang pendidikan dasar. Bahan kajian ini merupakan materi
pembelajaran yang mengacu pada bidang-bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di
mana peserta didik diberi kesempatan untuk membahas masalah teknologi dan
kemasyarakatan, memahami dan menangani produk-produk teknologi, membuat
peralatan-peralatan teknologi sederhana melalui kegiatan merancang dan membuat,
dan memahami teknologi dan lingkungan.
Kemampuan-kemampuan
seperti memecahkan masalah, berpikir secara alternatif, menilai sendiri hasil
karyanya dapat dibelajarkan melalui pendidikan teknologi. Untuk itu, maka
pembelajaran pendidikan teknologi perlu didasarkan pada empat pilar proses
pembelajaran, yaitu: learning to know, learning to do, learning to be, dan
learning to live together.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Potensi Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam
Peningkatan Mutu Pembelajaran Di Kelas, http://edukasi.net/artikel_files/POTENSI%20TEKNOLOGI%20INFORMASI%20DAN%20KOMUNIKASI%20DALAM%20PENINGKATAN%20MUTU%20PEMBELAJARAN%20DI%20KELAS.doc
Penulis : Prof. Dr. H. Mohamad Surya
Penulis : Prof. Dr. H. Mohamad Surya
·
Computer Mediated Communication – Email Group to
Facilitate Student Learning, http://www.ecu.edu.au/conferences/herdsa/main/papers/nonref/pdf/SiewChooSoo.pdf
Penulis : Dr Siew Choo Soo
Penulis : Dr Siew Choo Soo
·
Teknologi Informasi Inovasi Bagi Dunia Pendidikan,
http://www.waspada.co.id/serba_serbi/pendidikan/artikel.php?article_id=65750
Penulis : Drs Nurdin Salmi
http://www.waspada.co.id/serba_serbi/pendidikan/artikel.php?article_id=65750
Penulis : Drs Nurdin Salmi
·
Kurikulum Pendidikan Teknologi Suatu Kebutuhan yang Tidak
Pernah Terlambat,